Ada 2 pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini:

Pertama: Pendapat ulama yang melarang ( menganggap tidak sah )pernikahan wanita hamil karena zina.

Ulama yang berpendapat seperti ini antara lain Rabi’ah, Malik, Sufyan Ats-Tsauri, Ahmad, Ishaq, Ibnu Sirin, Abu Hanifah dalam satu riwayat, Abu Yusuf, Ibnul ‘Arabi dan Asy-syanqithi.

Alasan-alasan:

  1. Adanya masa iddah (masa menunggu) bagi wanita hamil, artinya wanita hamil karena zina itu harus menjalankan masa iddah, yakni sampai dia melahirkan kandungannya.

Analisis:

Alasan ini bisa diterima, sebab iddah wanita yang sedang hamil dari perzinaan masuk dalam pembicaraan ayat keempat dari surat Ath-Thalak pada lafal “Wa ulatil ahmali ajaluhunna an yadla’na hamlahunna” artinya wanita yang dalam keadaan hamil menunggu sampai melahirkan kandungannya jika ingin menikah. Masa menunggu ini ditujukan untuk membebaskan/ mengosongkan rahimnya dari kehamilan tersebut, agar tidak terjadi kekacauan nasab janin yang sedang dia kandung.

  1. Supaya suami itu tidak menyiramkan air maninya kepada tanaman orang lain. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari menyenggamai tawanan perempuan yang hamil sampai dia melahirkan. (lihat Fiqhus Sunnah karya Sayyid Sabiq,  jl.2 hlm.88)

Analisis:

Alasan mereka “agar suami itu tidak menyiramkan airnya kepada tanaman orang lain” untuk larangan akad nikah dengan wanita hamil karena zina itu bisa diterima, sebab dengan melakukan akad nikah dengan wanita hamil karena zina itu menyebabkan orang laki-laki yang menikahinya itu menyiramkan airnya kepada tanaman orang lain. Kalimat  “agar suami itu tidak menyiramkan airnya kepada tanaman orang lain” merupakan kiasan untuk larangan bersenggama dengan wanita hamil yang bukan dari air maninya. Alasan mereka itu sesuai dengan hadits Riwayat Ruwaifi’ bin Tsabit. Riwayat tersebut adalah sebagai berikut:.

 عَنْ رُوَيْفِعِ بْنِ ثَابِتٍ عَنِ النَّبِيِّ r قَالَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ اْلأَخِرِ فَلاَ يَسْقِ مَاءَهُ وَلَدَ غَيْرِهِ

Artinya: Dari Ruwaifi’ bin Tsabit, dari An-Nabi saw, beliau bersabda: Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah dia menyiramkan air maninya kepada anak orang lain. (H. R. At Turmudzi, jz.3, hlm. 428, k. 9 An Nikah, b. 35 Fi Maa Ja’a Fir-Rajuli, h.1131)

Hadits itu mengandung pengertian larangan menyenggamai perempuan yang masih dalam keadaan hamil yang kehamilannya itu bukan dari air maninya. Asal larangan ini ditujukan untuk tawanan wanita yang didapat dari perang Hunain. Artinya, wanita tawanan yang menjadi budak, jika dalam keadaan hamil, tidak boleh disenggamai oleh pemiliknya, karena kehamilan itu bukan dari maninya. Jika wanita hamil itu disenggamai, janin yang ada di dalam rahimnya akan dinasabkan kepada orang yang menyenggamainya, padahal janin itu tidak berhak dinasabkan kepadanya. Untuk menghindari hal ini maka tawanan wanita hamil yang menjadi budak itu tidak boleh disenggamai oleh pemiliknya sampai dia melahirkan kandungannya.

  1. Hadits Abud Darda` tentang keinginan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  untuk melaknat orang yang ingin menyenggamai tawanan perempuan yang menjadi budaknya yang sedang dalam keadaan hamil dari orang lain.

عَنْ أَبِى الدَّرْدَاءَ عَنِ النَّبِيِّ r أَنَّهُ أَتَى بِامْرَأَةٍ مُجِحٍّ عَلَى بَابِ فُسْطَاطٍ فَقَالَ لَعَلَّهُ يُرِيْدُ أَنْ يُّلِمَّ بِهَا فَقَالُوْا نَعَمْ فَقَالَ رُسُوْلُ اللهِ r لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَلْعَنَهُ لَعْنًا يَدْخُلُ مَعَهُ قَبْرَهُ كَيْفَ يُوَرِّثُهُ وَهُوَ لاَيَحِلُّ لَهُ …

Artinya: Dari Abud Darda’, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa dia datang bersama perempuan yang hamil pada pintu gerbang lantas beliau bersabda: Barang kali dia (tuannya) bermaksud menyenggamainya. Mereka mengatakan: Ya. Maka Rasulullah saw.bersabda: Sungguh saya sangat ingin melaknatnya dengan laknatan yang menyertainya di dalam kuburnya, bagaimana dia menjadikannya sebagai ahli waris padahal hal itu tidak halal untuknya, ….(H.R Muslim, jl.2 jz.4 hlm.161 k. An-Nikah b. Tahrimil Wath-il Hamilil Musabbayah)

Maksud dari hadits ini adalah orang yang menyenggamai tawanan wanita hamil yang menjadi budaknya itu menyebabkannya menasabkan janin yang ada dalam rahim wanita tersebut kepada dirinya yang lantas menjadi ahli warisnya -padahal hal ini dilarang, karena janin itu bukan dari air maninya-. Untuk menghindari hal ini, maka wanita hamil itu tidak boleh disenggamai.

Adapun penggunaan larangan menyenggamai wanita hamil untuk melarang menikahi wanita hamil karena zina adalah dilihat dari segi penasaban janin yang ada dalam rahim wanita itu. Janin budak wanita hamil yang bukan dari air mani tuannya tidak dinasabkan kepadanya

Kedua: Pendapat yang membolehkan (menganggap sah ) pernikahan wanita hamil karena zina.

Ulama yang membolehkan pernikahan wanita hamil karena zina antara lain Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan Ibnu Hazm.

Alasan-alasan:

  1. Menurut Imam Abu Hanifah, wanita yang hamil dari perzinaan boleh dinikahi sebelum rahim wanita tersebut dibebaskan dari kehamilan, hanya saja tidak boleh disenggamai sampai dia melahirkan kandungannya. Sedang Imam Syafi’i membolehkan pernikahan dan persenggamaan setelah pernikahan itu dengan wanita hamil karena perzinaan. Alasan beliau adalah, air mani dari perzinaan (yang menyebabkan kehamilan wanita) itu tidak dihargai, sehingga kehamilan yang disebabkan oleh air mani tersebut tidak dinasabkan kepadanya.

Analisis:

Pendapat Abu Hanifah dan Syafi’i tentang bolehnya melaksanakan akad nikah dengan wanita hamil karena zina itu kurang tepat, sebab wanita hamil karena zina harus menunggu sampai melahirkan kandungannya jika ingin menikah. Masa menunggu ini ditujukan untuk membebaskan rahim wanita tersebut dari janin yang sedang ia kandung agar tidak terjadi kekacauan nasab janin yang ada dalam rahim wanita tersebut.

Adapun pendapat Imam Syafi’i yang membolehkan  menyenggamai wanita hamil karena zina setelah pernikahan tersebut dengan alasan bahwa air mani yang menyebabkan adanya kehamilan itu tidak dihargai, sehingga tidak bisa dinasabkan kepada orang laki-laki yang menyebabkan adanya kehamilan itu , kurang tepat, sebab tidak ada dalil yang dijadikan sandaran untuk pendapat tersebut.

  1. Hadits riwayat Abuz Zubair yang menceritakan perintah ‘Umar kepada seseorang agar dia menikahkan saudara perempuannya yang dikatakan pernah berzina.

رَوَيْنَاهُ مِنْ طَرِيْقِ مَالِكٍ عَنْ أَبِى الزُّبَيْرِ قَالَ: خَطَبْتُ إِلَى رَجُلٍ أُخْتَهُ فََذَكَرَ أَنَّهَا أَحْدَثَتْ – يَعْنِى زَنَتْ- فَبَلَغَ ذَلِكَ عُمَرَ فَضَرَبَهُ أَوْ كَادَ يَضْرِبُهُ, وَ قَالَ: مَالَكَ وَ لِلْخَبَرِ . قَالَ ابْنُ وَهْبٍ , وَأَخْبَرَنِى عُمْرُو بْنُ الْحَارِثِ بِهَذَا الْخَبَرِ عَنْ أَبِى الزُّبَيْرِ وَ فِيْهِ أَنَّ عُمَرَ قَالَ لَهُ :أَنْكِحْ وَ اسْكُت

Artinya: Kami meriwayatkannya dari jalan Malik dari Abuz Zubair, dia berkata: Aku melamar kepada seorang laki-laki akan saudara perempuannya, Dia menuturkan bahwa dia (saudara perempuannya) telah berbuat dosa -yakni berzina- Maka kabar itu sampai kepada ‘Umar, kemudian dia memukulnya atau hampir memukulnya, dan dia berkata: apa urusanmu dengan kabar itu. Ibnu Wahb berkata, telah mengabari aku ‘Amr bin Al-Harits dengan kabar ini dari Abiz Zubair. Dan didalamnya (disebutkan) bahwa ‘Umar berkata kepadanya: Nikahkanlah dia dan diamlah! (Ibnu Hazm, Al-Muhalla, jz. 10, hlm.28)

Analisis:

Hadits ini kurang tepat untuk dijadikan dalil tentang kebolehan menikahi wanita hamil karena zina. Sebab isinya tidak menceritakan tentang pernikahan wanita hamil karena zina. Yang diceritakan adalah tentang pernikahan seorang wanita yang pernah berzina.

  1. Hadits riwayat Abu Yazid tentang perintah ‘Umar bin Al-Khaththab kepada seorang agar menikahkan seorang pemuda dan pemudi yang berzina -dengan perzinaan tersebut pemudi itu hamil- setelah keduanya dihukum had.

وَ مِنْ طَرِيْقِ إِسْمَاعِيْلَ بْنِ إِسْحَاقَ نا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ االلهِ نا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ نا عُبَيْدُ اللهِ بْنِ أَبِي يَزِيْدَ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ: تَزَوَّجَ سُبَاعُ بْنُ ثَابِتٍ بِنْتَ مَوْهِبَ بْنِ رَبَاحٍ وَ لَهُ ابْنٌ مِنْ غَيْرِهَا وَ لَهَا بِنْتٌ مِنْ غَيْرِهِ فَفَجَرَ الْغُلاَمُ بِالْجَارِيَةِ فَظَهَرَ بِهَا حَمْلٌ فَسُئِلَتْ فَاعْتَرَفَتْ فَرُفِعَ ذَلِكَ إِلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَاعْتَرَفَا فَحَدَّهُمَا وَ حَرَّضَ عَلَى أَنْ يُجْمَعَ بَيْنَهُمَا فَأَبَى الْغُلاَمُ .

Dan dari jalan Ismail bin Ishaq, telah menghabari kami ‘Ali bin Abdirrahman, telah mengabari kami Sufyan bin ‘Uyainah, telah mengabari kami ‘Ubaidullah bin Abi Yazid dari bapaknya, dia berkata: Suba’ bin Tsabit menikahi anak perempuan Mauhib bin Rabah sedangkan dia mempunyai anak laki-laki dari selainnya dan dia (istri Suba’ itu) mempunyai anak perempuan dari selainnya. Maka anak laki-laki itu berzina dengan perempuan tersebut Kemudian anak gadis tersebut nampak hamil, kemudian ia ditanyai maka ia mengakui. Lalu hal itu dilaporkan kepada ‘Umar bin Khaththab, maka keduanya mengaku. Kemudian dia (‘Umar) menghukum keduanya dengan hukuman had dan dia menghasung agar keduanya disatukan (dinikahkan), namun anak laki-laki itu enggan. (Ibnu Hazm, Al-Muhalla, jz. 10, hlm.28)

Analisis:

Hadits ini juga tidak dapat dijadikan dalil, karena isinya tidak menunjukkan bahwa ‘Umar membolehkan pernikahan wanita hamil karena zina, sebab beliau memerintahkan kedua pemuda tersebut dinikahkan setelah keduanya dihukum had, sedangkan hukum had dilaksanakan setelah wanita itu melahirkan, sebagaimana riwayat dibawah ini:

أَنَّ وَهْبَ بْنَ رَبَاحٍ تَزَوَّجَ امْرَأَةً, وَ لِلْمَرْأَةِ ابْنَةٌ مِنْ غَيْرِ مَوْهِبٍ, وَ لِمَوْهِبٍ ابْنٌ مِنْ غَيْرِ امْرَأَتِهِ, فَأَصَابَ ابْنُ وَهْبٍ ابْنَةَ الْمَرْأَةِ, فَرُفِعَ ذَلِكَ إِلَى عُمَرَبْنِ الْخَطَّابِ, فَحَدَّ عُمَرُابْنَ مَوْهِبٍ, وَ أَخَّرَ الْمَرْأَةَ حَتَّى وَضَعَتْ, ثُمَّ حَدَّهَا, وَ حَرَّصَ أَنْ يُجْمَعَ بَيْنَهُمَا, فَأَبَى ابْنُ وَهْبٍ .

Bahwa Wahb bin Rabah menikah dengan seorang perempuan, sedang perempuan itu mempunyai anak perempuan dari selain Mauhib dan Mauhib mempunyai anak laki-laki dari selain perempuan itu, kemudian anak laki-laki Wahb itu berzina dengan anak perempuannya istri Wahb itu, lantas perkara itu diadukan kepada ‘Umar bin Al-Khaththab, maka ‘Umar menghukum anak laki-laki Mauhib itu dan menunda pelaksanaan hukuman perempuan itu sampai dia melahirkan (kandungannya), kemudian dia (‘Umar) menghukumnya dan dia (‘Umar) menghasung agar keduanya disatukan (dinikahkan), namun anak laki-laki Wahb enggan.(H.R  ‘Abdurrazzaq, jl.7 hlm.203-204 b. Ar Rojuli Yazni Bimro’atin…..hd.12793)

About these ads

About brohand

seorang yang sedang menuntut ilmu supaya bahagia dunia dan akhirat...

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s